Gusur Prakla, HIV/AIDS menyebar

Sejarah Prakla

Prakla merupakan lokalisasi yang terletak di ujung Berbas Pantai, kecamatan Bontang Selatan. Prakla merupakan pemukiman yang berada di atas laut. Menurut ibu Jum, salah seorang penduduk Prakla, tempat itu dibuka mulai tahun 1975. Awalnya, hanya sebagai pemukiman penduduk namun lama kelamaan satu persatu penduduk mulai membuka wisma-wisma yang akhirnya ditujukan untuk kegiatan prostitusi. Pada tahun 1991, prakla mengalami kebakaran, tidak satu pun bangunan yang tersisa dari kebakaran itu. Rata dengan tanah. Akhirnya lokalisasi ditutup. Dua tahun kemudian, pada tahun 1993, pemerintah dan penduduk berencana untuk membuka pasar malam, bukan lokalisasi. namun, ternyata justru banyak warga yang dulu merasa memiliki tempat tersebut, mulai membuka lagi kompleks pelacuran tersebut kembali. Saat ini, pengurus lokalisasi ada tiga orang (bukan mucikari); yaitu H. Abdul Malik (H.Melle), Abdur Rahman Ukkas, Syahriruddin. Lokalisasi ini tidak semuanya wisma tetapi sebahagian besar merupakan pemukiman. Lokalisasi ini dibagi menjadi dua RT (rukun Tetangga), yaitu RT. 16 dan RT.17.  Di Prakla terdapat 27 wisma dan 167 klien, sebahagian besar  dari mereka tinggal di wisma lokalisasi. tetapi sekitar 5% dari mereka tinggal di luar kompleks atau kos-kosan.

Penggusuran lokalisasi

Lokasi Prakla yang berada di tengah-tengah kota membuat hadirnya perdebatan di kalangan pemerintah. Pemerintah akhirnya memberikan izin hanya sebatas untuk tempat hiburan atau karaoke. Perdebatan untuk menutup kompleks tersebut akhirnya terhenti.Akan tetapi, karena pada akhirnya Prakla kembali menjadi tempat prostitusi terselubung, Komisi II DPRD akhirnya menghimbau keras agar pemerintah kota segera menutup kompleks tersebut.

Untuk menganalisis kebijakan pemerintah terhadap penggusuran lokalisasi Prakla, ada baiknya melihat historis dari Bontang sendiri. Prostitusi adalah penyakit sosial yang sudah mendarah daging di Bontang. Dengan segala hingar bingar kota Bontang sebagai kota tambang yang memiliki upah minimum di atas rata rata, mengundang para pendatang dari berbagai pulau untuk mengadu nasib di kota tambang ini. Prostitusi adalah salah satu dampak dari ekonomi yang mapan. Prostitusi mengundang epidemi HIV/AIDS. Salah satu indicator untuk mengukur peningkatan/penurunan epidemic itu adalah dengan mempertahankan lokalisasi. dengan adanya prostitusi yang tersentralistik, memudahkan pemerintah dan aktivis HIV/AIDS untuk memantau prevalensinya setiap tahun. Dengan adanya sentralisasi prostitusi, memudahkan pencegahan seperti penyuluhan dan pembagian kondom untuk memantau proses perubahan perilaku para WTS. Ketika lokalisasi tersebut digusur, hilanglah sistem yang telah dibangun selama ini oleh Dinas Kesehatan, KPAD, dan lembaga terkait yang peduli akan HIV/AIDS. Pemerintah dan instansi lain harus memulai dari awal untuk melacak kasus baru. Read more…


” Smile Behind the Karaoke Villages”

Karaoke villages is a place mostly related to sex workers, women from young to old. There is seen as a place to obtain sexual, men who come there with no specific tariff for the price of pleasure.

But I have never  imagined, how they are still able to keep their smiles and survive in such conditions. Because, I think it’s not easy to strip the body and being naked in front of someone who is not someone as their loved ones. I’m very aware what they are doing is to support their family, for their children and loved ones, even they have to pay money for the price of freedom.

So, their smiles that don’t seem to represent the conscience and heart desires. My little heart is sure none of them want to be like that. They definitely want to live in a happy family with one man who could protect and provide a living for their lives.

Therefore, whatever its form, in prostitution, remark sex workers are victims who are entitled to human treatment because they are just like us. Alignments that does not mean we approve of prostitution, but we try to give the feel of a human approaches.

Don’t see, judge black-white what they do, good or bad person from what she is doing. Matters of right and wrong, sin or no-sin is a human affair with Their’s Lord. However, the intention of repentance in the hearts of the women who do prostitution more commendable if compared with the corrupt ties and respected who secretly takes a lot of public money.


Next Page »